Senin, 26 Maret 2012

Jika Presiden Amerika Serikat Seorang Indian

Hmm...bayangkan

1. jika Amerika Serikat presidennya adalah seorang INDIAN???

2. jika Australia dipimpin oleh seorang dari suku ABORIGIN???

3. jika Papua gubernurnya adalah seseorang dari suku ASMAT???

4. jika Indonesia presidennya adalah seseorang dari suku SASAK, ASMAT, DAYAK???

Bukankah ini adalah kewajaran, suku asli setempat yang berkarya berbakti u/ negaranya??


karena seorang Presiden yang kita sebut negara adidaya adalah seseorang yang inginkan perubahan, ia dari kulit berwarna telah menjadi contoh perubahan yang tampaknya sedari awal telah tahu bakal ada banyak tantangan...

karena telah hadir pemimpin-pemimpin daerah yang berasal yang menurut kebanyakan orang adalah minoritas...yang acapkali dicerca meski kinerjanya tak seburuk pemimpin sebelumnya dari, yang lagi-lagi umum disebut mayoritas...

bukannya jadi pembelajaran tentang Perbedaan yang menjadikan kita Kaya...
tentu ada manfaat mengapa kita diciptakan berbeda...

apakah kita termasuk yang picik lalu berfikir culas...bahwa hal itu tidak mungkin?

atau hal yang menakutkan?

hahahahaha

padahal saya tidak menerakan apa kelebihan yang menjadikan personal tersebut pantas menjadi pemimpin...
n sebalikny..


karena saya hanya melampirkan sukunya, apakah akan ada yang LANGSUNG men-jugde bahwa itu adalah hal yang benar-benar tidak bisa diterima atau tidak akan mau diterima???

padahal kebaikan atau keburukan BUKAN HARGA MATI yang disandang oleh satu suku !!!!



MAMPUKAH yang merasa mayoritas dan MERASA paling pantas, BERBESAR HATI...

well, sekarang mungkin hanya bisa dibayangkan tapi suatu saat akan terjadi PERUBAHAN lalu apa kita bisa bersikap sportif???

Penampilan Menipu

Di negeri Chie, alkisah seorang menteri bernama Yan Je. Dia berbadan pendek tapi pandai dan banyak akalnya. Kepandaiannya ini membuatnya dihormati oleh rakyat di negeri Chie dan ia dijuluki orang pintar.
Pada suatu  hari, Raja mengutus Yan Je ke negeri tetangga Chu untuk menjalin hubungan baik antarnegara.
Setibanya ia di sana, ia disambut menteri negeri Chu. Namun, ketika menteri negeri Chu melihat tubuh tamunya pendek, timbullah perasaan dan keinginannya menghina.
Bukannya membukakan pintu gerbang besar yang biasanya dilewati oleh tamu - tamu penting, sang menteri hanya memerintahkan pengawal untuk membukakan pintu samping yang kecil sebagai tanda tidak hormatnya terhadap Yan Je. Para pengawal pun berusaha menahan tawa.
Yan Je menyadari kesengajaan yang dilakukan oleh menteri negeri Chu tersebut. Ia pun berkata "Pintu ini terlihat seperti pintu yang umumnya dilewati anjing. Apakah aku datang ke negri anjing?"
Pertanyaan ini membuat para tuan rumah menjadi tidah enak hati. Segera saja mereka terdiam dan membuka pintu besar untuk mempersilakan tamu mereka masuk.
Ternyata, bukan hanya menteri dan para pengawal yang merendahkan Yan Je. Raja Chu juga mempunyai perasaan yang sama karena Yan Je bertubuh pendek dan berpenampilan seperti orang bodoh. Ia pun bertanya kepada Yan Je, "Apakah Negeri Chie kekurangan orang yang terampil?"
Yan Je mengerti maksud sang Raja, dengan santai dia menjawab, "Negeri Chie adalah negeri besar. Luasnya kira - kira 30 hektar dan penduduknya banyak. Dengan alasan apa Yang Mulia mengatakan kami kekurangan orang terampil?"
Raja Chu menjawab, "Di antara sekian banyak penduduk negeri Chie, mengapa kamu yang dipilih untuk ditugaskan ke negi Chu?"
Mendengar pertanyaan ini, Menteri Yan Je menjawab dengan tenang, "Negeri Chie memang negeri besar, tapi kami memiliki peraturan yang ketat, yaitu orang yang terampil ditugasan ke negeri maju, sedangkan orang bodoh ditugaskan ke negeri terbelakang. Jikalau Yang Mulia tidak melihat saya sebagai orang yang terampil, berarti Yang Mulia mengaku bahwa negeri Chu adalah negeri yang terbelakang."
Setelah mendengar jawaban dari Menteri Yan Je, barulah Raja Chu sadar bahwa sang tamu adalah orang yang pintar dan tidak dapat diremehkan. Sejak saat itu Raja tidak lagi memandang remeh tamunya hanya dari penampilannya saja. Ia menyambut Yan Je dengan ramah dan hormat.

*Diceritakan kembali dari 33 Cerita Bijak dari Negeri Cina

Kisah Dua Selop Tua

Ini kisah dua selop tua...
Yang tinggal di istana namun telah usang dan diletakkan begitu saja di sudut dapur istana.
Mereka layaknya sepasang suami - istri karena sepasang selop tua ini dapat saling berbicara.
Ajaib! Ya memang karena ini dongeng yang sarat pesan...
Jadi silakan dibaca kisah mereka.

Hari itu, selop tua yang berperan sebagai suami mengeluh karena mereka yang tak lagi terpakai dan dilupakan pemiliknya sehingga hanya jadi benda tua yang menjadi incaran tikus - tikus dapur istana. Lalu sang suami berkata, "istriku apakah kau melihat tikus yang memelototi kita dari tadi di sana?". Istrinya menjawab dengan anggukkan.
"Bagaimana jika kita berdoa untuk menjadi tikus saja istriku." pikir suami selop kepada istrinya.
"Bagaimana yang baik menurutmu suamiku." jawab istri selop dengan patuh.


Lalu mereka berdoa dan memohon agar dapat menjadi tikus sehingga tidaklah lagi mereka menjadi incaran para tikus di istana. Ajaib. Doa mereka dikabulkan. Jadilah sepasang selop tua tersebut menjadi sepasang tikus. Mereka senang lalu berkeliaran layaknya tikus - tikus istana di dapur istana.
Namun ternyata kesenangan tersebut tidaklah lama karena ternyata tikus adalah incaran lezat bagi para kucing istana. Kembali sang suami selop memohon agar mereka menjadi kucing istana dan doanya pun dikabulkan. Kini mereka adalah sepasang kucing yang berkeliaran di istana dan tampak lucu di mata pelayan - pelayan istana.
Malang tak dapat ditolak, kesenangan mereka sebagai sepasang kucing hanya sebentar karena anjing - anjing istana menjadikan kucing sebagai incaran makan malam mereka.
Lagi - lagi sepasang kucing ajaib ini kembali gusar. Dengan saran dari sang suami, kembali mereka memohon tuk dijadikan anjing sehingga tidaklah lagi mereka gusar hendak dijadikan santapan bagi anjing - anjing di istana.
Tring...ajaib. Lagi - lagi doa mereka dikabulkan. Sekarang mereka adalah sepasang anjing - anjing yang tidak lagi menjadi incaran.
Hah! Apa mau dikata. Ternyata anjing di istana tidak disenangi oleh para pelayan. Mereka kerap dipukul dengan alu atau kayu tombak pengawal.
Merasakan beratnya menjadi anjing, mereka kembali memohon agar mereka dapat menjadi manusia.
Kembali lagi permohonan mereka dikabulkan. Mereka adalah manusia sekarang. Sepasang manusia biasa yang tidak lagi dipukuli. Tapi ah, mereka harus bekerja untuk dapat makan, membayar pajak dan jika terjadi perperangan mereka harus siap dikirim ke medan perang.
Melihat nikmatnya menjadi pangeran dan putri di istana. Kini mereka berfikir bahwa permohonan mereka kali ini adalah tepat, yaitu memohon keajaiban agar menjadi pangeran dan putri.
Nikmatnya mereka menjadi pangeran dan putri. Dapat bermain dan mempunyai banyak dayang - dayang dan pengawal yang siap melindungi mereka.
Tapi lagi lagi, lagi lagi kesenangan mereka terusik. Perang berkecamuk. Mereka adalah incaran pembunuh bayaran dari negeri lawan. Keseharian mereka kini dirundung kekhawatiran dan ketakutan.
Dalam ketakutan mereka kali ini, sang suami memohon agar mereka menjadi Tuhan.
"Istriku bagaimana jika kita memohon menjadi Tuhan. Menjadi Tuhan bearti kita mempunyai segalanya, berkuasa, tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan"
"Bagaimana baiknya menurutmu suamiku" jawab istrinya pasrah.
 
Kemudian memohonlah mereka.
Tapi apa mau dikata. Permohonan mereka justru mengantarkan mereka kembali menjadi sepasang selop tua di sudut dapur istana.